Duka Dua Jumat

23 11 2007

Hari Jumat minggu lalu 16 Nov pas sedang ndengerin khotbah Jumat, HPku bergetar di saku, jelas aku diemin, “sapa sih ini yg nggak ngerti waktu jumatan?”, tapi setelah berhenti bergetar, kok bergetar lagi?, pasti ada sesuatu yg urgent, jangan-jangan ada sesuatu yang gak beres, Jumatan jadi gak konsen.

Selesai jumatan, sambil jalan aku buka handphone, ternyata udah ada SMS dari mbak Ati, “Tadi jam 11 siang Bude Endar meninggal dunia, tolong kabari yang lain” Innalillahi Wa Inna ilaihi Rojiun. Sekitar Iedul Fitri + 3 kemaren aku dah sempet nengok Bude di Demak, meskipun menurut anak-anaknya Kankernya sudah ada kemajuan, tapi psikisnya drop. Bude yang dulu aku kenal sebagai pribadi yang selalu berjuang, bagaimanapun kondisi ekonomi keluarga tiba-tiba jadi lemas, tidak percaya diri, bahkan hanya untuk tidur sendiri nggak bisa, harus selalu ditemani anak sulungnya. Menyedihkan…

Akhirnya sampe di kantor aku langsung telpon ke nomor yang SMS aku tadi. “Iya Da, Bude udah nggak ada, kankernya memburuk lagi sejak disinar, ini mbak Atiek masih di rumah sakit, jenazah belum dibawa pulang, siang ini juga akan dikebumikan di Demak”.

Telpon ibu di Bandung, ternyata udah tau, dan masih nangis. Dunno what to do, berdoa aja, semua orang nantinya akan menyusul. Ya Allah terimalah amal ibadahnya, ampuni dosa-dosanya.

Kamis malam 22 November, hampir tengah malem telpon rumah berdering, semua udah pada tidur, aku angkat, ternyata suara Ibu dari Bandung “Da, suaminya mbak Sulam meninggal, barusan mbak Ut telpon!”, deg! Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun. mbak Sulam adalah adik almarhum bapakku, dan sudah lama tidak aku tengok. aku terceka, karena Iedul Adha nanti sudah berencana mengunjungi keluarga-keluarga di Jateng+Jatim, sekalian berkunjung ke Demak, karena kemaren nggak sempet Takziah Bude.

Paginya aku telpon keluarga Tuban, “Ya, Da, Oom Bambang sudah nggak ada, tadi malem jam 11 di rumah sakit, awalnya ngeluh sesak nafas, padahal sorenya masih bercanda dengan dik Farid yang baru pulang dari Surabaya”.

Begitu banyak peringatan dari Allah tentang kematian, bahwa kita harus menerima kenyataan itu siap-tidak siap, pasti menjemput kita suatu saat nanti. Tapi kenapa keimanan kita belum beranjak? kenapa ibadah kita masih seperti itu?


Tindakan

Information

Satu tanggapan

8 01 2008
pENat « Strat Lover

[...] titiapn Oom untuk perpustakaan panti, terus langsung cabut ke Demak nengok keluarga sepupu yang baru ditinggal ibunya [...]

Tinggalkan komentar